Visa bangun bank onchain, angin segar buat masyarakat underbanked

Visa bangun bank onchain, angin segar buat masyarakat underbanked

Sigrid Voss
Sigrid Voss ·

Visa bangun bank onchain, angin segar buat masyarakat underbanked

Kalau kamu pernah coba buka rekening bank tradisional di negara berkembang, kamu pasti tahu betapa menyebalkannya urusan dokumen dan syarat yang sering kali nggak masuk akal. Bagi jutaan orang, sistem keuangan "tradisional" itu ibarat klub eksklusif yang tertutup. Nah, sekarang Visa bekerja sama dengan WeFi untuk membangun sistem yang memangkas semua kerumitan itu. Kalau kamu bingung apa itu bank onchain, jawaban simpelnya adalah layanan keuangan yang berjalan di atas blockchain, bukan di kantor pusat perusahaan. Ini memberi pengguna identitas digital dan cara menyimpan uang tanpa harus datang ke kantor cabang fisik.

Cara kerja perbankan onchain

Di bank biasa, uangmu cuma angka dalam database privat milik perusahaan. Untuk punya akun, kamu butuh KTP, alamat tetap, dan kesabaran ekstra. Bank onchain membalik logika ini. Dengan menggunakan stablecoin seperti USDT dan jaringan Ethereum, "bank" ini mengizinkan pengguna membuat akun hanya dengan dompet kriptografis.

Hal yang menarik di sini adalah integrasi IBAN (International Bank Account Numbers) langsung ke blockchain. Visa dan WeFi nggak cuma bikin aplikasi baru, tapi membangun infrastruktur di mana pengguna punya nomor rekening yang diakui secara global dan penyelesaiannya menggunakan stablecoin. Artinya, seseorang di wilayah dengan mata uang yang nilainya hancur bisa menyimpan USDT, menerima pembayaran dari seluruh dunia, dan membelanjakannya lewat antarmuka dukungan Visa tanpa perlu menginjakkan kaki di bank.

Saya sudah memantau pergeseran ke arah tokenisasi sejak 2019, dan ini pertama kalinya saya melihat raksasa korporat seperti Visa nggak cuma "mendukung" kripto, tapi benar-benar mengganti pipa dasar sistem perbankan.

Kenapa ini menguntungkan bagi masyarakat underbanked

Istilah "unbanked" sering dipakai ekonom, tapi bagi orang yang mengalaminya, itu berarti kamu nggak bisa menabung dengan aman atau dapat pinjaman tanpa bunga yang mencekik. Bank onchain menyelesaikan ini dengan menghapus perantara.

Saat akunmu ada di on-chain, "bank" nggak perlu memverifikasi domisili atau skor kreditmu secara tradisional. Riwayatmu adalah aktivitas on-chain kamu. Ini membuka pintu ke berbagai alat DeFi (Decentralized Finance). Bayangkan pemilik usaha kecil di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, yang sekarang bisa mengambil pinjaman dengan jaminan stablecoin mereka lewat smart contract, daripada harus memohon ke pemberi pinjaman lokal dengan bunga tinggi.

Tapi ada tapinya. Meski aksesnya lebih mudah, keamanan sepenuhnya ada di tangan pengguna. Di bank tradisional, kalau kamu lupa password, kamu tinggal ke cabang bawa KTP. Di perbankan onchain, kalau kamu kehilangan private key, uangmu hilang. Itulah kenapa saya selalu bilang ke pemula untuk memindahkan aset dari exchange ke hardware wallet. Saya pribadi lebih suka Ledger Nano Gen5 untuk pemula karena layar E Ink-nya ada di tipe paling terjangkau seharga sekitar $99, jadi lebih kecil risiko salah kirim dana ke alamat yang keliru.

Risiko dan ironi korporasi

Jujur, saya punya perasaan campur aduk soal ini. Di satu sisi, memberi alat finansial bagi masyarakat underbanked adalah hal yang sangat positif. Di sisi lain, kita melihat mimpi "desentralisasi" justru diserap oleh perusahaan pembayaran terbesar di dunia.

Ada risiko nyata bahwa bank onchain ini nantinya cuma jadi cara baru bagi korporasi untuk melacak setiap sen yang kamu belanjakan. Kita lihat Departemen Keuangan AS mulai mendorong kontrol lebih ketat atas stablecoin, dan kalau Visa jadi gerbang utamanya, mereka punya akses kursi depan ke semua data itu.

Selain itu, pasar saat ini sedang dalam "Bitcoin Season", dengan Altcoin Season Index di angka 20/100. Sebagian besar uang mengalir ke BTC, sementara pasar yang lebih luas, termasuk ETH, sedang berjuang. Dengan dominasi ETH yang sangat kecil di beberapa metrik dan biaya gas yang tetap rendah, infrastrukturnya sebenarnya sudah siap untuk skala ini, tapi minat terhadap utilitas berbasis altcoin nggak seheboh saat hype 2021 lalu.

Pendapat saya soal pergeseran ini

Saya rasa kita sedang menuju dunia di mana kata "bank" nantinya cuma berarti "tempat yang mengelola kunci digitalmu". Visa nggak melakukan ini karena mereka baik hati, tapi karena mereka tahu arah angin bergerak. Perbankan tradisional itu lambat dan mahal. Perbankan onchain itu instan dan murah.

Saya nggak bilang ini utopia yang sempurna. Risiko bug smart contract atau tekanan regulasi akan selalu ada. Tapi bagi seseorang yang melihat sistem tradisional mengecewakan orang biasa selama puluhan tahun, melihat hambatan masuk bagi jutaan orang berkurang adalah sebuah kemajuan. Saya akan pantau terus apakah ini benar-benar memberdayakan pengguna atau cuma jadi cara yang lebih efisien bagi Visa untuk memungut biaya.


Related Tickers


Sigrid Voss

Sigrid Voss

Analis kripto dan penulis yang membahas tren pasar, strategi perdagangan, dan teknologi blockchain.


Baca Lebih Banyak Artikel